Kamis, 15 September 2011

MAN 2 BOJONEGORO INTEGRASIKAN PENDIDIKAN KARAKTER DENGAN STUDI DAKWAH ISLAMIYAH

Idialnya, pendidikan menghasikan manusia yang cerdas secara keilmuan, dan baik secera moral, tetapi faktanya  pendidikan seringkali hanya mampu mengisi ranah kognitif belaka, sehingga pendidikan (selama ini) umumnya hanya menghasilkan menusia-manusia cerdas secera keilmuan, tetapi (maaf) lemah secara moral.
<!–more–>

Menyadari hal itu, kementerian Pendidikan Nasional belakangan ini mencanangkan pendidikan karakter agar ke depan bangsa ini menjadi cerdas dan berkarekter, sehingga Indonesia tidak lagi berada pada urutan ke 112 dari 182 negera di dunia. Ironi memang, negeri ini dikenal negeri yang subur, kaya raya. Kakek nenek kita mengibaratkan negeri ini sebagai negeri  yang gemah ripah loh jinawi. Tetapi faktanya slogan itu masih tetap slogan pasif.

Madrasah Aliyah Negeri 2 Bojonegoro dalam menerapkan pendidikan karakter antara lain diimplementasikan dalam kegiatan SDI (Studi Dakwah Islamiyah), yaitu kegiatan ekstrakurikuler dengan metode menerjunkan para siswa-siswi ke desa-desa mitra atau desa binaan di Kabupaten Bojonegoro. Tahun 2011 ini kegiatan studi dakwah Islamiyah sudah memasuki tahun ke tujuh dan dilaksanakan di Desa Bendo Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro.

Materi kegiatan studi dakwah Islamiyah secara umum adalah belajar  bermasyarakat, baik dalam pendidikan, keagamaan, ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan hidup. Menurut Mokh. Mas Ulin, M.Pd.I, kepala MAN 2 Bojonegoro, “Maksud dan tujuan kegiatan ini, agar siswa mempunyai karakter yang kuat, tidak cengeng, tanggung jawab, tidak mengeluh, percaya diri, jujur, ulet, sabar dalam menghadapi tantangan, suka bermusyawarah, dan dapat ber-muasyarah dengan masyarakat setempat (tidak eksklusif) dan mengerti ungah-unguh (tata karma) dalam bermasyarakat,” . Lebih lanjut Pak Ulin, (panggilan akrab) bapak H. Mokh Mas Ulin menegaskan,  “Model model pembelajaran seperti ini adalah pendidikan integratif, memadukan teori dan praktek. Kalau di sekolah siswa-siswi lebih banyak mengkaji “tentang” kehidupan, tetapi di lapangan anak-anak betul-betul belajar kehidupan. Belajar bermusyawarah, belajar tata karma dan lain sebagainya, bukan lagi belajar “tentang” musyawarah, tata karma, bermasysrakat dan lain sebagainya. 

Meskipun kegiatan ini hanya bersifat pelatihan, tetapi masyarakat setempat mengapreasiasi dengan baik, terbukti ketika kegiatan menjelang berakhir masyarakat yang ditempati berharap agar kegiatan ini diadakan lagi pada tahun mendatang. (Ali Mujahidin, Humas MAN 2 Bojonegoro)